Dia bukan sampah
Petikan gitar, berbunyi nyaring diperempatan jalan. Beradu,
menembus kuping, Mengalahkan kerasnya rongrongan knalpot. Bocah kecil lusuh
dengan rombengan kain memperlihatkan koreng hampir disetiap sisi tubuhnya. Menunjukkan
betapa perih dan sakitnya hidup di buaian debu dan percikan matahari. Tetapi senyum
ikhlas dan semangat masih tetap terlihat untuk sesuap nasi, walaupun itu cuma untuk
satu kali. Telah lama ditinggal mati kedua orang tua. Begitu kabar
yang ia dengar dari pengasuh panti. “Ayah, dan Ibu mu telah lama meninggal.
Kamu ditinggal oleh seorang ibu paruh baya yang menemukanmu diatas sebuah kursi
kayu tepat dibelakang toilet terminal. Hampir mati digerogoti semut
dan nyamuk malam.”
Tak tergurat sedikitpun sesal ataupun menyalahkan dunia atas
apa yang terjadi. Mereka disebut “Anak Jalanan”. Ya, anak jalanan. Bau
asap knalpot dan dinginnya udara malam bukan lagi hal yang mesti mereka takuti.
Hidup bebas tanpa belaian tak akan pernah lagi membuat mereka jengah. Tak
jarang sisa-sisa sampah jadi pengganjal perut yang meronta-ronta.
Penyakit? bukan lagi hal yang mesti mereka pikirkan.
Dapat hidup hari ini saja sudah anugerah bagi
mereka. Mereka bukan sampah, mereka hanya bocah terpinggirkan. Bukan salah
mereka lahir seperti itu.
“kak ?” pinta seorang bocah bertubuh kecil disebelahku.
Menyodorkan kantong bekas permen, tampak wajah penuh harap tergambar.
“Kencriiingg.” Beberapa keping receh yang ku rogoh dari saku
segera meluncur deras masuk kedalam kantongnya. Dari mukanya yang datar penuh
harap tadi seketika berubah. Bibirnya merekah, terangkat beberapa senti,
memperlihatkan gigi kuning tak terawat. Namun cukup manis. senang rasanya.
“Terimakasih kak.”
lampu hampir menuju hijau. Angka sudah dibatas 5 detik.
Tanpa ku hirau lagi bocah kecil itu pun ikut menepi. Angkot ya aku tumpangi kembali
melanjutkan perjalanan, dan dia? kembali menunggu hingga lampu berubah
merah untuk waktu yang selanjutnya.
Belakangan ini, hampir tiap minggu aku mesti lewat
perempatan itu. Dan selalu, bocah kecil berwajah bulat dengan pakaian yang
selalu compang-camping itu menghampiriku. Ia pun selalu tampak senang
dengan receh ku yang tak seberapa. Aku jadi punya kebiasaan baru sekarang. Sebelum
pergi dan harus melewati salah satu perempatan jalan itu, aku pasti menyiapkan
beberapa keping receh untuk bocah tersebut.
Suatu ketika, aku persiapkan sebungkus makanan, yang kubeli
disebuah rumah makan. Aku berencana untuk memberikan pada si bocah, hari ini
aku ingin melihat lebih lama jalan hidupnya, cukup untuk hari ini saja.
Sampai sudah aku diperempatan, berhenti disebuah tambal ban.
Bocah itu sudah melihat, tentu dengan senyumnya. Barangkali berharap receh yang
lebih hari ini.
Kuhampiri dia, ku sodor sebuah kantong berisi nasi. Dia
hanya terpelongo, mungkin bingung. Tapi tak apa, tetap ku beri dia.
Ku ajak dia menepi disebuah gubuk dipinggir jalan yang sudah
tak terpakai lagi.
“Makanlah dulu.” Pujuk ku padanya.
“Iya kak, kebetulan emang lagi laper.” Bocah itu hanya
cengengesan, tapi tetap terlihat jelas kerasnya dunia diatas air mukanya.
Setelah selesai dengan nasi bungkusnya, ku coba ajak
dia berbicara. Tampak bibirnya bergetar menceritakan kisah hidup, tak terbayang
oleh ku harus hidup seperti itu.
Aku masih bisa bersyukur di lahirkan di keluarga sederhana
yang masih mampu untuk menghidupiku dengan lebih.
Sejak umur 7 tahun ia sudah lepas dijalanan. Panti tak lagi
mengurus, entah apa alasannya, barangkali sebab dana yang jauh dari cukup. Tak
bisa membiayai makan mereka terus menerus.
Pertanyaan terakhirku padanya untuk saat itu, “Apa pernah
ada seseorang yang datang padamu, dan memberi bantuan, entah uang atau sekedar
makanan?”
Ia jawab hanya dengan gelengan kepala.
Ya, setelah itu aku pulang. Kembali keperaduan.
“kak pulang dulu ya.”
Lagi-lagi ia hanya tersenyum.
Minggu-minggu selanjutnya aku masih lewat perempatan itu.
Beberapa minggu aku masih setia memberinya receh. Hingga suatu minggu tak terdengar
olehku petikan gitar itu.
hingga minggu berikutnya pun tak tampak lagi bocah kecil
lusuh pencari receh.
Sampai satu hari, aku memberanikan diri untuk bertanya pada
bapak tambal ban ditempat biasa bocah itu menanti dan berharap lampu akan
selalu merah.
“Permisi Pak, anak yang selalu ngamen disini kemana ya?”
“Beberapa minggu lalu ia meninggal dik. Ada apa ya? adik
saudaranya?” tutur si bapak padaku.
“Tidak pak, meninggal kenapa ya?”
“Sakit tipes katanya.”
“Bapak tahu rumahnya dimana?”
“Tidak dik, ada apa?”
“Oh tidak pak, terimakasih ya pak.”
Aku berlalu, masih bertanya-tanya. Bingung, kemana harus
kucari kubur anak itu. Atau kemana aku harus mencari penjelasan, dia masih terlalu
muda. Hari saat ku beri ia nasi bungkus, masih teringat olehku sedikit
pembicaraan itu. Terselip juga cerita bahwa ia punya mimpi. Ia punya cita-cita,
ingin membuka bengkel motor.
Apakah salah ia punya mimpi?
Apa anak jalanan tak boleh bermimpi?
Apa anak jalanan tak boleh hidup lama?
Apa menjadi anak jalanan harus seperti itu?
Lahir tanpa ada yang menanti?
Matipun tak ada yang menangisi?
Ada dan tidaknya dia, tak pernah dunia mau perduli?
Dunia tak pernah kenal dia.
Apa dunia tahu bahwa ia ingin berarti untuk dunia?
Kemana manusia? kemana mereka?
Ku lihat dengan jelas diperempatan jalan itu. tertulis
sangat jelas, bahkan oleh mereka yang bermata minus.
“PERDULI TIDAK SAMA DENGAN MEMBERI”
Mereka melarang kami memberi receh langsung pada bocah-bocah
malang itu. Salurkan pada mereka dan mereka akan kembali menyalurkan pada
tempat yang benar.
Tapi kemana larinya?
Apa itu cuma sekedar kata?
Hanya sekedar untaian busuk?
“Anak Jalanan”, Mereka Bukan Sampah!!
Mereka bocah, anak-anak kita, adik adik kita
Mereka bukan untuk kita acuhkan apalagi kita buang. bukan
untuk kita pinggirkan.
Mereka nyata, mereka ada ditengah-tengah kita. mereka butuh
sebuah pembuktian. Bahwa Mereka ada.
Mereka butuh belaian dan peluk hangat dari kalian semua.
Mereka adalah Permata Indah. Dan Mereka Bukan Sampah!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar