Kamis, 27 Februari 2014


Dia bukan sampah
Petikan gitar, berbunyi nyaring diperempatan jalan. Beradu, menembus kuping, Mengalahkan kerasnya rongrongan knalpot. Bocah kecil lusuh dengan rombengan kain memperlihatkan koreng hampir disetiap sisi tubuhnya. Menunjukkan betapa perih dan sakitnya hidup di buaian debu dan percikan matahari. Tetapi senyum ikhlas dan semangat masih tetap terlihat untuk sesuap nasi, walaupun itu cuma untuk satu kali. Telah lama ditinggal mati kedua orang tua. Begitu kabar yang ia dengar dari pengasuh panti. “Ayah, dan Ibu mu telah lama meninggal. Kamu ditinggal oleh seorang ibu paruh baya yang menemukanmu diatas sebuah kursi kayu tepat dibelakang toilet terminal. Hampir mati digerogoti semut dan nyamuk malam.”

Tak tergurat sedikitpun sesal ataupun menyalahkan dunia atas apa yang terjadi. Mereka disebut “Anak Jalanan”. Ya, anak jalanan. Bau asap knalpot dan dinginnya udara malam bukan lagi hal yang mesti mereka takuti. Hidup bebas tanpa belaian tak akan pernah lagi membuat mereka jengah. Tak jarang sisa-sisa sampah jadi pengganjal perut yang meronta-ronta.
Penyakit? bukan lagi hal yang mesti mereka pikirkan.
Dapat hidup hari ini saja sudah anugerah bagi mereka. Mereka bukan sampah, mereka hanya bocah terpinggirkan. Bukan salah mereka lahir seperti itu.

“kak ?” pinta seorang bocah bertubuh kecil disebelahku. Menyodorkan kantong bekas permen, tampak wajah penuh harap tergambar.
“Kencriiingg.” Beberapa keping receh yang ku rogoh dari saku segera meluncur deras masuk kedalam kantongnya. Dari mukanya yang datar penuh harap tadi seketika berubah. Bibirnya merekah, terangkat beberapa senti, memperlihatkan gigi kuning tak terawat. Namun cukup manis. senang rasanya.
“Terimakasih kak.”
lampu hampir menuju hijau. Angka sudah dibatas 5 detik. Tanpa ku hirau lagi bocah kecil itu pun ikut menepi. Angkot ya aku tumpangi kembali melanjutkan perjalanan, dan dia? kembali menunggu hingga lampu berubah merah untuk waktu yang selanjutnya.

Belakangan ini, hampir tiap minggu aku mesti lewat perempatan itu. Dan selalu, bocah kecil berwajah bulat dengan pakaian yang selalu compang-camping itu menghampiriku. Ia pun selalu tampak senang dengan receh ku yang tak seberapa. Aku jadi punya kebiasaan baru sekarang. Sebelum pergi dan harus melewati salah satu perempatan jalan itu, aku pasti menyiapkan beberapa keping receh untuk bocah tersebut.
Suatu ketika, aku persiapkan sebungkus makanan, yang kubeli disebuah rumah makan. Aku berencana untuk memberikan pada si bocah, hari ini aku ingin melihat lebih lama jalan hidupnya, cukup untuk hari ini saja.
Sampai sudah aku diperempatan, berhenti disebuah tambal ban. Bocah itu sudah melihat, tentu dengan senyumnya. Barangkali berharap receh yang lebih hari ini.
Kuhampiri dia, ku sodor sebuah kantong berisi nasi. Dia hanya terpelongo, mungkin bingung. Tapi tak apa, tetap ku beri dia.
Ku ajak dia menepi disebuah gubuk dipinggir jalan yang sudah tak terpakai lagi.
“Makanlah dulu.” Pujuk ku padanya.
“Iya kak, kebetulan emang lagi laper.” Bocah itu hanya cengengesan, tapi tetap terlihat jelas kerasnya dunia diatas air mukanya.
Setelah selesai dengan nasi bungkusnya, ku coba ajak dia berbicara. Tampak bibirnya bergetar menceritakan kisah hidup, tak terbayang oleh ku harus hidup seperti itu.
Aku masih bisa bersyukur di lahirkan di keluarga sederhana yang masih mampu untuk menghidupiku dengan lebih.

Sejak umur 7 tahun ia sudah lepas dijalanan. Panti tak lagi mengurus, entah apa alasannya, barangkali sebab dana yang jauh dari cukup. Tak bisa membiayai makan mereka terus menerus.
Pertanyaan terakhirku padanya untuk saat itu, “Apa pernah ada seseorang yang datang padamu, dan memberi bantuan, entah uang atau sekedar makanan?”
Ia jawab hanya dengan gelengan kepala.
Ya, setelah itu aku pulang. Kembali keperaduan.

“kak pulang dulu ya.”
Lagi-lagi ia hanya tersenyum.
Minggu-minggu selanjutnya aku masih lewat perempatan itu. Beberapa minggu aku masih setia memberinya receh. Hingga suatu minggu tak terdengar olehku petikan gitar itu.
hingga minggu berikutnya pun tak tampak lagi bocah kecil lusuh pencari receh.
Sampai satu hari, aku memberanikan diri untuk bertanya pada bapak tambal ban ditempat biasa bocah itu menanti dan berharap lampu akan selalu merah.
“Permisi Pak, anak yang selalu ngamen disini kemana ya?”
“Beberapa minggu lalu ia meninggal dik. Ada apa ya? adik saudaranya?” tutur si bapak padaku.
“Tidak pak, meninggal kenapa ya?”
“Sakit tipes katanya.”
“Bapak tahu rumahnya dimana?”
“Tidak dik, ada apa?”
“Oh tidak pak, terimakasih ya pak.”
Aku berlalu, masih bertanya-tanya. Bingung, kemana harus kucari kubur anak itu. Atau kemana aku harus mencari penjelasan, dia masih terlalu muda. Hari saat ku beri ia nasi bungkus, masih teringat olehku sedikit pembicaraan itu. Terselip juga cerita bahwa ia punya mimpi. Ia punya cita-cita, ingin membuka bengkel motor.
Apakah salah ia punya mimpi?
Apa anak jalanan tak boleh bermimpi?
Apa anak jalanan tak boleh hidup lama?
Apa menjadi anak jalanan harus seperti itu?
Lahir tanpa ada yang menanti?
Matipun tak ada yang menangisi?
Ada dan tidaknya dia, tak pernah dunia mau perduli?
Dunia tak pernah kenal dia.
Apa dunia tahu bahwa ia ingin berarti untuk dunia?
Kemana manusia? kemana mereka?
Ku lihat dengan jelas diperempatan jalan itu. tertulis sangat jelas, bahkan oleh mereka yang bermata minus.
“PERDULI TIDAK SAMA DENGAN MEMBERI”
Mereka melarang kami memberi receh langsung pada bocah-bocah malang itu. Salurkan pada mereka dan mereka akan kembali menyalurkan pada tempat yang benar.
Tapi kemana larinya?
Apa itu cuma sekedar kata?
Hanya sekedar untaian busuk?
“Anak Jalanan”, Mereka Bukan Sampah!!
Mereka bocah, anak-anak kita, adik adik kita
Mereka bukan untuk kita acuhkan apalagi kita buang. bukan untuk kita pinggirkan.
Mereka nyata, mereka ada ditengah-tengah kita. mereka butuh sebuah pembuktian. Bahwa Mereka ada.
Mereka butuh belaian dan peluk hangat dari kalian semua.
Mereka adalah Permata Indah. Dan Mereka Bukan Sampah!!



Best :)



Guruku Tersayang :)


Pagiku Cerahku
Matahari bersinar
kugendong tas merahku
di pundak

Selamat pagi semua
kunantikan dirimu
di depan kelasmu
menantikan kami

Guruku Tersayang
Guru tercinta
Tanpamu apa jadinya aku
Tak bisa baca tulis
Mengerti banyak hal
Guruku terimakasihku

Nyatanya diriku
Kadang buatmu marah
Namun segala ma'af
Kau berikan


Sangat terkesan dengan lirik lagu itu,, teringat adik-adik TPA kampungku,, dengan iseng nya mengganti  lirik lagu yang ada kata “ guru “ menjadi “ kakak “ :’(
aku bisa bersemangat dan bahkan sangat bersemangat jika mendengar gurauan dan candaan serta mnjaan dari kalian semua,,
kakak kangen kalian

Terimalah aku yang ingin bersuci
Terimalah baktiku untukmu
Kau guru yang mulia
Dan sungguh sempurna
Mengajarkan kebersamaan
Dan kasih sayang bagi semua
Tak akan berpaling hatiku
Dari teduhnya kasihmu
Kau guru yang mulia
Dan bijaksana
Jalanmu terang bagi dunia
Sungguh besar kasihmu, Ibu
Guru agung maha bijaksana
Kau ajarkan damai bagi dunia
Aku semakin mencintaimu
Kepada yang ku kagumi, kakak mentor ku tercinta
Dari adikmu desma hastuti
Padang, 16 November 2013

      Assalamualaikum wr.wb
Apa kabarnya kak, ama harap kakak selalu sehat ya, disini ama sedikit menuangkan kata-kata, setelah beberapa waktu ini kita bersama. Ama harap ada tanggapan ya dari kakak J
Berawal dari pertemuan kita yang di awali oleh mentoring, awalnya ama merasa biasa aja, tetapi setelah beberapa pertemuan ama merasa senang dan bersemangat untuk mengikuti mentoring ini. Mungkin karena mentoringnya di dampingi oleh kakak yang luar biasa, apalagi saat kakak bilang “ semangat ya dek “ ama paling suka dengan kata-kata yang itu. Kakak memberikan ama semangat baru, seiring langkah ama menjajaki dunia kampus ini, yang kata orang-orang sangat indah.
      Selama ini ama sangat menginginkan sosok seorang kakak cewek yang bisa mendengarkan semua isi hati ama, dan slalu ingin memberi solusi jika ama ada masalah, sekarang impian ama itu udah terwujud, karena ada kakak yang bisa slalu beri semangat dan solusi sama ama. Mungkin semua ini sepele kak, tapi ini benar-benar dari hati ama kak, ama ngungkapin ini semua karena ama menganggumi kakak, kakak adalah motivasi bagi ama, ama pengen kalo kakak tu nggak menganggap semua ini hanya karangan biasa aja, tetapi nilailah dengan keikhlasan dan kepercayaan. Ama harap hubungan silaturahmi kita ini nggak sampai di akhir mentoring aja kak, ama ingin kita slalu menjalini hubungan sampai kapanpun, dan ama sangat ingin kakak tetap memberi semangat dan motivasinya lagi buat ama. Dan jangan pernah bosan untuk slalu memberi kata “ semangat ya dek “. Ama suka sekali kak dengan kata itu, kalo bisa tiap hari kakak bilang itu sama ama, biar ama slalu tetap semangat kak, heheheheheh J
      Yang paling membanggakan ama pas ada acara lustrum peternakan kak, yang ada penghargaan buat mahasiswa berprestasi. Ternyata sosok yang ama kagumi itu tampil kedepan dengan membawa gelar mahasiswa berprestasi, ama ikut bahagia dengan prestasi kakak. Mudah-mudahan ama menjadi generasi selanjutnya ya kak, aamiin J

Terimakasih atas perhatian kakak selama kegiatan mentoring ini, terimakasih juga atas pendidikan yang kakak ajarkan kepada ama yang bisa menjadi pengalaman berharga buat ama khususnya dan umumnya buat teman-teman mentoring ama semua. Salam sayang dari adikmu yang slalu menunggu kasih sayang dan perhatian lebih darimu. J
Penyakit di indonesia

Siang ini aku berangkat untuk menuju rumah saudaraku tepatnya di steba.. sebelumnya aku berniat mampir dulu di pasar raya karena ada sesuatu yang ingin aku beli.. di sudut jalan aku melihat seorang bapak yang kedua matanya di tutupi oleh perban, aku sangat kasihan melihatnya, kemudian aku memberi sedikit uang kepadanya.. dan di sudut lain aku juga bertemu dengan seorang adik yang ku lihat kakinya ada sedikit cacat,, hmmm bisa di bilang bukan sedikit lagi, salah satu kakinya lumpuh dan susah untuk berjalan.. aku lihat dia sedang asik memperhatikan gitar unik yang di pegangnya.. kemudian aku menghampiri dan memberi uang.. dan aku tersentak saat adik itu menolak pemberianku dan berkata   
“ saya bukan pengemis kak,,??? “
sungguh luar biasa,, aku baru ini mndapatkan jwabn seperti ini.. aku berkata “ maf dek,, kakak gk ada bermksud apa2,, sebelumnya kakak mau Tanya,, nama kamu siapa dan ngapain disini..??? “
adik itu menjawab “ nama saya andre kak,, saya baru siap ngamen.. ada apa kak, dan kakak kenapa disini..?? “
“ kakak Cuma kebetulan lewat aja,, masih sekolah dek “
“ gk kak,, gk ada biaya,,”
aku berkata dalam hatiku,, bukannya sekolah udah gratis sekarang atau munkin adik ini kekurangan biaya untuk dana seragam atau peralatan lainnya pikirku,, tapi aku tidak mau banyak Tanya,, takut nanti dia tersinggung dengan pertanyaan ku. Setelah beberapa saat kemudian seorang bapak menyapa adik tersebut “ hai ndre,, udah dapat berapa,, udah banyak belum uang mu..” 
aku lihat senyum bahagia bercampur senyum ejekan kepada adik yang ku temui ini..
dan ternyata bapak ini adalah bapak yang ku temui di awal tadi,, oh tuhan beginikah cara bapak ini untuk mendapatkan uang, berpura pura buta agar bisa menarik perhatian orang lain untuk kasihan kepadanya dan memberi uang untuknya.. berbeda sekali dengan adik ini yang kakinya benar benar lumpuh dan masih tetap berusaha mencari uang dengan mengamen.. aku rasa bapak ini tidak tahu kalau aku tadi memberi uang kepadanya dan aku juga tidak ingin memberi tahu kepada adik yang ku temui ini meskipun adik ini mengenal bapak yang berpura pura buta itu..
ternyata penyakit di Indonesia sudah banyak sekali yang merajalela.. contohnya korupsi dan bermalas malasan,, mendapatkan uang tanpa ada usaha penuh
yah ternyata bangsa ini juga belum bisa di bilang untuk maju,,
mudah mudahan ada kesadaran dari diri masing masing saja,, 
sebelumnya aku juga mengucapkan terimakasih kepada adik yang ku temui,, mendapatkan sebuah pelajaran berharga,, semoga di lain waktu kita bisa berjumpa lagi

desma hastuti




Senin, 03 Februari 2014

kakakku tersayang

Aku punya seorang kakak angkat perempuan yang sangat cantik. Nadira namanya. Bagiku dia adalah seorang kakak yang terbaik di dunia ini dan di dalam kehidupanku. Kami berdua selalu bersama dan tidak pernah bertengkar. Kadang, karna keegoisan aku sebagai adik, kakak selalu mengalah. Dia tidak pernah memarahiku. Jika aku salah, dia hanya menasihatiku dengan cara yang halus. Perbedaan umur kami hanya dua tahun, hal itu membuatku merasa dia juga sebagai seorang sahabat. Kak Dira, tiada hari tanpa tidak tersenyum. Senyumannya yang tulus itu, selalu membuatku senang. Beruntungnya aku mempunyai kakak seperti dia. Dialah segala bagiku.

Sampai akhirnya, Kak Dira selalu mengeluh sakit kepala yang luar biasa. Entah kenapa, dia selalu sakit kepala. Kadang dia menangis menahan sakit yang dia alami. Selama dua minggu selalu mengeluh, akhirnya dibawa ke dokter. Dan dokter bilang dia punya penyakit tumor otak. Semenjak keterangan dokter itu, kakak masih selalu tersenyum. Entah apa yang membuatnya kuat, dia selalu saja tersenyum di hari-harinya yang selalu terlewati dengan kepahitan. Aku yang melihat senyum kakak dan ketegarannya, malah selalu sedih. Kakak, bagaimana mungkin dia tidak menganggap penyakit yang mematikan itu dan hanya tersenyum?. Tiga bulan hidup dengan tumor di otaknya, membuat kakak semakin tersiksa. Kini kakak sudah tidak bisa berjalan lagi. Kedua kakinya lumpuh total. Tetap seperti biasa, walaupun dia tidak bebas melakukan apa yang dia inginkan, senyumannya tidak pernah lepas dari bibirnya. Seminggu tidak bisa berjalan, ganti kakak tidak bisa berbicara. Sebenarnya dia bisa berbicara, hanya saja dia selalu berbicara dengan putus-putus. Setiap malam, kakak tidak bisa lagi bercerita untukku. Tapi senyuman kakak dan ketegaran hatinya tidak pernah pudar. Suatu hari, aku mendekati kakak dan memanggilnya.

“Kak Dira, ibu buat kue nih buat kakak” ucapku dari arah belakangnya. Tapi Kak Dira tidak menyahuti.

Aku terus memanggilnya tapi tetap tidak ada sahutan dari mulut kakak. Kemudian aku memagang bahu kakak. Dia sedikit terkejut. Aku duduk di depannya dan memandangnya. Kak Dira tetap tersenyum. Saat itu aku sadar kakak tidak dapat lagi mendengar. Cukup! Cukup penderitaan yang dialami kakak. Kenapa harus kakak? Kenapa harus kakak yang mengalami penderitaan yang begitu menyakitkan ini?. ku genggam tangan kakak yang terlihat begitu rapuh. Kakak balas mengenggam tanganku. Kakak tersenyum lagi tapi aku tidak. Aku tidak bisa tersenyum padanya yang jelas-jelas merasakan kesakitan ini.

Malamnya, penyakit itu mengganggu tubuh kakak lagi. Kakak mengeram kesakitan dengan kerasnya.

“Sa... saakk... sakkittttt!!!!!!!!”, kakak selalu mengeluarkan ucapan itu dengan susahnya. Dan selalu memegang kepalanya juga menjenggut-jenggut rambutnya sendiri.

Aku benar-benar tidak tega melihat kakak tersakiti. Setiap kakak mengeluh kesakitan, aku selalu keluar dari kamar dan menangis sendirian. Waktu itu aku sedang belajar dan kakak sedang membaca bukunya. Melihat kakak, aku kembali meneteskan air mata. Biasanya saat aku belajar, kakak selalu ada disampingku. Memang saat itu kakak menemaniku tapi dia tidak membantuku belajar. Dia sibuk dengan kerjaannya sendiri. Entah kenapa, tiba-tiba aku mulai menulis surat untuk kakak. Karena jarak kita waktu itu cukup jauh, aku meremas kertas yang bertuliskan suratku dan melemparnya pada kakak. Karna percuma aku memanggil kakak, toh kakak tidak mungkin memalingkan kepala kearahku. Setelah sadar ada kertas di sampingnya, kakak langsung mengambil kertas itu dan menengok kearahku dan tersenyum. Setelah cukup lama, kakak kembali menengok kearahku dan menyodorkan sebuah kertas tepat disampingnya. Kemudian aku mengambil kertas itu dan mulai membaca tulisan kakak.

Ini tulisanku pada kakak,


Kak, kenapa kakak selalu tersenyum di tengah-tengah penderitaan kakak? Kenapa kakak selalu tegar padahal penyakit kakak selalu mengganggu saat kakak tidur? Kenapa kakak nggak pernah meneteskan air mata disaat penyakit itu datang kak? Kak, menangislah walau hanya setetes air mata. Kakak nggak bisa selalu tersenyum. Kakak pasti sebenernya sedih kan? Terbukalah padaku, kak. Jangan kakak tutupi kesedihan yang mengganjal dihati kakak. Keluarkanlah semua amarah kakak. Aku mau menerima semua amarah kakak itu. Aku akan menemani kakak.

Tulisan kakak padaku,


Tersenyum, hanya itu yang bisa kakak lakukan sekarang ini. kakak ingin sekali menangis, tapi kakak yakin itu hanya akan membuat keluarga ini tambah sedih. Tersenyum, kakak akan selalu melakukan itu selagi kakak bisa melakukannya. Karna nanti jika kakak sudah ada di alam yang berbeda dengan kamu dan keluarga ini, kakak yakin sudah tidak bisa lagi tersenyum dihadapan kalian semua. Tegar, itu juga hal yang akan kakak terus lakukan. Hanya dengan ketegaran, kakak bisa menahan tangisan kakak ini. untuk saat ini, kakak nggak mau ninggalin kalian semua. kamu jangan selalu memandang sedih pada kakak ya? Tersenyumlah pada saat kakak melihat kamu. Karna melihat senyuman kamu itu, bisa membuat kakak selalu tegar dan kuat untuk menghadapi dan melawan penyakit yang menyakitkan ini. percaya pada kakak, kamu pasti bisa melihat kakak yang seperti dulu lagi. Jangan nangis lagi ya, ? Janji sama kakak ya? Smile :)

Setelah membaca tulisan kakak yang tidak bagus seperti dulu itu, aku meneteskan air mata lagi. Dulu aku iri saat setiap melihat buku catatan pelajaran kakak. Aku iri dengan tulisan bagus kakak. Tapi saat ini, tulisan kakak sudah tidak sebagus dulu. Banyak tulisan yang bergemetar. Aku yakin kakak menulisnya dengan susah payah. Kemudian aku menghampiri kakak dan memeluknya. Kemudian aku tersenyum di tengah tangisanku. Kakak menghapus air mataku dan tersenyum padaku juga. Ketegaran kakak, sepertinya kakak sungguh-sungguh akan hal itu.

Setelah hampir lima bulan, kakak hidup dengan penderitaan. Malam itu adalah puncaknya kakak mengeluh akan penyakitnya. Kakak sama sekali tidak bisa tidur. Dia terus berteriak tanpa bersuara. Saat akan dikeluarkan suaranya, dia selalu bersusah payah mengeluarkan suaranya. Dia memegang kepala dengan kuat-kuat. Saat itu juga, kakak seperti sulit bernafas. Lagi-lagi aku tidak bisa melihat kakak. Tapi, disaat seperti ini, harusnya aku disamping kakak. Menyemangatinya walau hanya dengan sebuah senyuman. Kuurungkan niatku untuk meninggalkan kamar. aku duduk di samping kakak yang terbaring tidak karuan. Ku genggam tangannya dengan erat. Setiap kakak melihat kearahku, saat itu juga aku berhenti menangis dan tersenyum padanya walau ini sangat terpaksa sekali. Kakak juga masih bisa tersenyum padaku sambil menahan sakitnya yang dirasakan kakak. Dia juga menggenggam tanganku dengan erat. Aku benar-benar tidak sanggup melihat kakak seperti ini. akhirnya malam itu juga kakak dibawa ke rumah sakit. Ke tempat dimana kakak tidak pernah mau berada. Tapi takdir berkata kalau kakak harus ada di tempat yang paling kakak benci itu.

Hari demi hari berganti. Semenjak kakak di rumah sakit, kakak belum juga membuka kedua matanya. Senyum yang selalu aku lihat setiap harinya itu, tiba-tiba saja pudar seketika. Selang-selang rumah sakit, menghiasi tubuh kakak saat itu. Karena terus menjalani kemo terapi, rambut indah hitam kakak semakin berkurang. Rambut yang dahulu sangat aku inginkan itu, semakin lama semakin berkurang. Rambut kakak juga sudah tidak seindah dulu. Wajah cantik kakak, entah kenapa wajah itu semakin hari semakin membengkak. Aku terus duduk disamping ranjang kakak terbaring. Berharap akulah orang pertama yang bisa melihat kedua mata itu membuka dan melihat senyuman kakak yang selama beberapa hari ini tersembunyi di balik bibirnya yang pasti juga terasa sakit itu. Setelah hampir tiga minggu koma, akhirnya kakak kembali membuka matanya. Mata yang terlihat berbinar-binar itu kembali bisa aku lihat. Suara tangis ibu, menghiasi kamar kakak saat itu. Kali ini, kakak hanya bisa terbaring di ranjangnya tanpa bisa melakukan apapun.

Suatu hari, aku menjenguk kakak di rumah sakit sepulang sekolah. Melihat kakak menderita, aku sangat ingin sekali menangis. dengan sangat terpaksa, aku menahan air mata yang akan keluar dari mataku. Kemudian kakak mengelus rambutku dan tersenyum padaku. Kakak benar-benar terlihat tegar saat itu. Aku yakin dia pasti ingin sekali mengatakan sesuatu padaku, tapi, dia tidak bisa mengatakannya. Dia selalu membuka mulut dan berusaha mengucapkan sesuatu, tapi dia selalu menutup kembali mulutnya itu. Aku memegang wajah kakak yang bengkak setiap harinya itu. Kemudian aku tersenyum sambil menganggukkan kepala. Setelah 15 hari kakak bertahan untuk membuka matanya, akhirnya kakak kembali menutup matanya dan koma. Dan akhirnya, kakak benar-benar menutup kedua matanya dan tidak akan pernah membukanya lagi. Aku tidak akan pernah bisa melihat mata indah kakak lagi. Tidak akan pernah bisa memerhatikan senyuman indah kakak lagi. Lebih baik begini daripada kakak harus menahan rasa sakitnya terus-menerus. Kami semua sudah ikhlas dengan kepergian kakak untuk selama-lamanya. Penderitaan kakak cukup sampai disini. Ketegaran kakak untuk tetap hidup dan melihat keluarganya, hanya cukup sampai disini. Mungkin dengan ini, kakak akan tenang dan tidak akan merasakan penderitaan itu lagi.

Setelah mengantar kakak ke tempat peristirahatan terakhirnya, aku masuk ke kamar kakak. Kulihat foto-foto saat kita berdua masih bisa berpelukan dan tersenyum juga tertawa bersama. Kulihat meja belajar kakak yang terlihat dingin karena tidak pernah kakak gunakan lagi selama berbulan-bulan ini. senyuman kakak, aku hanya bisa melihatnya di foto-fotonya dulu. Kakak.. kenapa kakak harus tinggalin aku? Kak, kakak bilang aku akan melihat kakak yang dulu lagi. Kenapa kakak pergi begitu cepat? Sekarang aku sendiri disini, kak. Sekarang aku udah nggak bisa belajar bareng kakak lagi. Semua yang akan kulakukan di rumah ini, hanya sendiri. Tanpa ada kakak di sampingku. Setelah lama melihat foto-foto kakak, aku duduk di kursi meja belajar kakak dan mulai membuka buku-buku kakak yang kaku. Tiba-tiba sebuah surat terjatuh saat aku membuka salah satu lembaran buku kakak. Kuambil surat itu dan kubaca.

Selalu menyinari bumi walaupun kita tidak bisa meraihnya. Selalu berada diatas kepala kita setiap harinya. Walau kadang kita tidak menganggapnya ada, tapi dia idak pernah lepas menjalankan tugasnya untuk menyinari bumi. Ya, itulah matahari. Matahari.. aku ingin sekali menjadi matahari. Walaupun nanti aku akan pergi, aku masih mampu melindungi keluargaku. Walau nanti aku akan pergi, aku masih bisa melihat senyum dan tawa keluargaku. Sekuat apapun aku bertahan, aku yakin aku akan lelah. Aku yakin aku tidak akan bisa bertahan terlalu lama. Semua kenangan yang menyangkut diriku, aku ingin sekali mereka semua bisa melupakannya dengan cepat. Aku tidak mau membuat mereka ikut menderita. Cukup aku saja yang menderita. Mereka semua harus tersenyum apapun caranya. Bahkan, disaat terakhirku nanti, aku mau melihat senyuman mereka semua Tuhan.. karna hal itulah yang membuat aku kuat melangkah maju untuk hidup di kehidupan kedua nanti.

adikku yang sangat aku sayangi. Jangan biarkan dia terlalu lama terlarut dalam kesedihan yang harusnya diakhiri dengan cepat ini Tuhan.. setelah waktunya tiba, biarkan aku menutup mata dengan bahagia dan sambil tersenyum menuju tempat terakhirku. Memang berat meninggalkannya tapi, ini sudah takdirku. Jika Engkau membuat senyum keluargaku, aku tersenyum Tuhan.. aku sayang mereka semua... :)

Minggu, 02 Februari 2014

kado terakhir

Kriiiinngg
kriiinnngg
jam bekker cantikku slalu setia untuk membangunkanku subuh ini,, kulihat jam ku sudah menunjukkan pukul 5,, aku bergegas untuk ke kamar mandi mengambil whudu dan shalat.. selesai shalat aku berencana tidur sejenak,, tetapi hp ku berbunyi,, ku lihat layar hp ku ternyata yang menelfonku adalah lisa temanku, lalu aku mengangkatnya “ assalamualaikum,, ada apa lisa.. tumben subuh subuh gini kamu nelfon aku,,??”
“ walaikumsalam,, desma apa kamu sudah dapat kabar duka,,””
aku kaget dan bertanya “ hah,, kabar duka apa..”
“ ini desma rendra kecelakaan.. tadi malam dia balapan dengan teman temannya,, tapi salah satu temannya ada yang jatuh,, kebetulan rendra ada di belakang temannya itu.. rendra juga ikut jatuh dan kepalanya terhempas ke batu besar yang ada di pinggir jalan.. dia sudah di larikan ke rumah sakit, tapi pihak rumah sakit tidak dapat menyelamatkan nyawanya,, karena darah yang begitu banyak keluar dari mulut dan kepalanya”
aku sempat merinding,, dan tangisku sudah tidak bisa aku tahan lagi..
“dimana mayat rendra sekarang,,??
lisa menjawab “ di rumahnya..”
bergegas langsung aku mengganti pakaianku,, setelah itu minta izin kepada orang tuaku.. aku langsung pergi dengan motorku untuk menuju rumah rendra,, aku tidak sadar lagi dengan udara subuh yang sangat dingin ini.. sepanjang jalan aku menangis,, aku teringat kisah kisah ku dengan sahabatku rendra,, aku, rendra, dan lisa adalah sahabat sejak kecil,,  tetapi aku berbeda kampung dengan mereka..
sebenarnya rendra itu sudah sangat lama suka denganku,, tetapi aku Cuma menanggapi kalau dia itu Cuma bercanda terhadapku,, karena selain dia orangnya usil dia juga suka membuat semua orang GR..
2 hari yang lalu aku masih sempat di ajak rendra untuk melihat ikan ikan yang ia pelihara dekat rumahnya,, aku dan rendra memberi makan ikannya,, kemudian rendra berkata kepadaku,, “ ama”
“ya” jawabku singkat
“ ama aku ingin kita tidak Cuma bersahabat, aku ingin kita bisa lebih dari sahabat”
aku kaget,, kenapa dia bertanya seperti itu terhadapku.. selama ini aku sudah menganggap dia itu lebih di hidupku,, aku sudah menganggap bahwa dia itu adalah abag ku.. tetapi aku mengerti apa yang di maksud lebih oleh rendra.. dan aku juga tidak akan pernah mau menjadi orang yang lebih yang di maksudkan rendra itu,, aku cukup menjadi sahabat dan adik bagi rendra,, dan tidak ada lagi yang lebih bagiku untuk rendra,, Cuma sahabat dan abangku
“ ren,, kamu itu adalah sahabatku sejak kecil,, dan sekarang aku sudah menganggapmu abangku sendiri,, jadi jangan pernah untuk meminta lebih dari sahabat terhadapku,,”
aku langsung meninggalkan rendra dan pergi, sejak saak itu aku tidak pernah lagi berjumpa atau pun melihat dia dari kejauhan..
itulah terakhir kalinya aku melihat rendra sebelum kematiannya
dan tanpa aku sadari aku sudah sampai di depan rumah rendra,, aku melihat banyak orang disana,, langsung aku masuk di keramaian orang itu dan melihat mayat rendra yang terbujur kaku berselimutkan kain hitam.. aku membuka kain hitam tersebut.. di kepalanya masih ada darah yang mengalir,,
oh tuhan,, sahabatku,, apa benar ini dia sahabatku.. aku tidak menyangka bahwa secepat ini engkau panggil dia.. lalu aku berdoa agar diberi kemudahan oleh allah dalam perjalanannya..

setelah semuanya selesai,, mulai dari memandikan,, menshalatkan dan memakamkan.. aku langsung menuju rumah lisa,, saat lisa baru membuka pintunya langsung aku memeluknya dan menangis,,
“ Lisa,, rendra udah pergi,, rendra udah gk ada lagi.. sekarang kita Cuma tinggal berdua sa,,
lisa kemudian melepas pelukanku dan mengusap air mataku,,
“sudah ma,, jangan nangis lagi,, semuanya udah ada yang ngatur.. ma.. sebenarnya aku mau melihatkan sesuatu kepadamu,, itu adalah titipan terakhir rendra buat kamu,, dia nitip surat ma,, itu ada di kamarku,, ayok aku lihatkan,,”
Lalu lisa menuntunku untuk ke kamarnya,, kemudian lisa menunjukkan surat yang di titipkan oleh rendra kepadaku,, dalam surat itu dia menceritakan bahwa yang di maksud lebih dari sahabat itu adalah kalau dia mau aku menjadi adik sperti adik kandungnya sendiri,,  memang benar kalau penyesalan itu datangnya terakhir kali,, aku tlah bersalah kepada rendra,, kenapa dulu aku tidak bersabar untuk mendengarkan penjelasan rendra terhadapku,, kini aku baru tau apa sebenarnya yang di maksud lebih oleh rendra.
air mata ku sudah tidak bisa di tahan lagi, kini,, besok,, dan seterusnya aku sudah tidak bisa lagi melihat senyuman rendra kepadaku,, kami tidak bisa lagi memberi makan ikan ke sayangannya lagi,, dan tidak akan pernah ada 3 sahabat itu lagi,, sekarang tinggal lisa yang sangat aku sayangi,, sahabat sekaligus kakak bagiku.. aku sangat menyayangi rendra dan lisa.. meskipun sekarang rendra udah gk ada lagi, tapi bagiku dia masih tetap ada dalam ingatanku dan tidak akan pernah lupa..
terimakasih abangku rendra untuk kenangan manis yang telah kau berikan di hidupku,, terimakasih sudah menjadi abangku,, dan terimakasih untuk titipan terakhirmu untukku,, ini akan menjadi kado terindah yang akan aku memorikan di ingatanku dan hidupku..
selamat jalan abangku sayang,, semoga engkau slalu dalam kasih sayang allah swt.


Buat sahabat pembaca kumpulan cerita hatiku,, sayangilah orang orang terdekatmu,,jangan sampai terlambat..  karena kita tidak tahu kapan ajal akan menjeput kita.. jangan ada kata menyesal lagi nantinya,,
sahabat kumpulan cerita hatiku terimaksih banyak masih setia membaca tulisan ku..
dan jangan lupa untuk membaca kumpulan cerita hatiku selanjutnya ya
J
salam hangat dari ku desma hastuti

aku dan tersayang

Hari ini aku bisa di bilang senang bahkan terlampu sangat senang sekali,, heheheh
mudah mudahan guru bahasa indonesia ku tidak berkomentar dengan PLEONASME ku ini,,
aku tidak bisa lagi mengungkapkan kebahagiaanku.. hari ini aku di datangkan dengan kejutan yang bertubi tubi,, azziiiiiiikkkk :P
sepulang dari mesjid,, tiba tiba saja adik adik TPA ku menjailiku , mereka  menakutiku dengan seolah olah seperti hantu, yach tntu sja aku tidak takut karena aku sudah tau siapa yang ada di hadapanku saat ini.. aku terus berjalan dan tidak mau tau..
tiba tiba saja seorang dari mereka memanggilku “ kakak”
aku pura pura tidak peduli,,
kembali mereka memanggilku,, tetapi ini dengan nada yang,, aduuuuuhhhhh membuat telinga ………,,  hmm tidak perlu aku jelaskan munkin kalian sudah tau,,
baru aku menoleh dan bertanya,, “ ada apa, kalian ini mengganggu kakak saja,, sudah sana pulang,, malam malam ngerjain orang,,” kali ini giliran aku yang menjaili mereka,, aku ingin melihat seperti apa tanggapan mereka saat aku bilang seperti itu,, hkhkhkhkhkhk
aku mempercepat langkah ku,, dan tiba tiba saja Sesuatu memberikan kekagetan yang luar biasa,, bukan singa atau gorilla yang ada di hadapanku,, bukan pula pocong atau kuntilanak atau sebangsa hantu hantu lainnya.. tetapi ini adalah salah satu adikku tercinta,, heheheheh
dia membawa sesuatu
aku lihat sebatang lilin yang berdiri di atas kasur empuk yang bulat dan…… aaarrrrggghhhhh bukan maksudku kue :P
munkin khayalanku terlalu tinggi sehingga sulit bagiku untuk membedakan mana yang kasur dan mana yang kue…  hahahahahah
aku bertanya “ apa ini dek”
dan mereka menjawab,, “ menurut kakak ini apa,, apa seperti bola atau seperti boneka..”
aku menggeleng dan wahhhh sindirannya sangat pedas dan mengandung makna yang cukup dalam untuk menerobos pikiranku
“ hmmmm maksud kakak ini buat apa,, kok ada kue segala,, apa salah satu dari kalian ada yang ulang tahun..??”
mereka semua menggeleng
aku kembali bertanya “ jadi buat apa dek,,??”
aku kira ada jawaban yang manis dan lembut.. ternyata malah sebaliknya,, kembali mereka membisu..
yaudah aku terus berjlan dan tidak bertanya lagi,, aku sih berharap mereka memanggilku dan ternyata benar
“kakak”
hahahah tu kan benar,,felling ku kebanyakan benar dari pada tidaknya..
aku menoleh “ apa lagi dek”
“kak sebenarnya kue ini untuk kakak”
“ heheheheh kakak kn gk ulang thun dek..”
“ ya kak,, kami tau kok..  kemaren itu kakak kn ulang thun tpi kmi gk bsa kasih kdo,, krna kakak kn gk da dirumh,, jdi kue nya kmi ksih sekarang,, mf yak kak  telat satu bulan,,”
hmmm adik adik ku memang baik semua,, ingin rasanya untuk berlama lama dengan mereka,,
aku memluknya dan berkata “kakak sangat sayang kalian,, makasih udah ngasih ini semua,, “

Kemudian aku dan adik adikku memotong kue nya dan aaaaammmmm
heheheheheh
bahagia sekali rasanya,, dan aku rasa bulan cukup tersenyum dengan kejadian malam ini dan bintang juga ikut menari nari mengikuti pesta kecilku dengan adik adikku,, dan yang paling aku senangi nyamuk cukup bersahabat juga denganku,, mereka ikut mengerti dengan situasi seperti ini,, makanya mereka tidak mau mengganggu ku dan adik adik tercinta ku..

hah,, sekali lagi terima kasih ya allah,, tidak ada kata yang pntas yg patut aku ucapkan selain rasa syukurku ke padamu,, aku slalu berada di tengh2 orang yg sayang padaku..

desma hastuti